Rabu, 7 Desember 2022

Hak Karyawan Tidak Dibayar, PT Hutan Alam Lestari Digugat ke Pengadilan

Senin, 04 Juli 2022 | 23:24:48 WIB


ilustrasi
ilustrasi / Istimewa

JAMBI – PT Hutan Alam Lestari (HAL) digugat ke Pengadilan Negeri (PN) Jambi terkait hak para karyawan yang belum dibayarkan. Gugatan perselisihan hubungan industrial ini dilayangkan para karyawan perkebunan kelapa sawit pada akhir Juni 2022 lalu.

Para penggugat merasa ditelantarkan oleh perusahaan. Bahkan mereka mengaku tidak tahu lagi status karyawannya. Perusahaan juga belum memberikan kepastian. Selain itu gaji yang mereka terima sudah tidak lagi tepat waktu.

Ini diungkapkan oleh Muniroh, salah satu karyawan PT Hutan Lestari itu. " Gaji tidak tepat waktu, sesuka mereka bayarnya kapan. Selain itu, sepertinya ada perbedaan perlakuan terhadap saya dan beberapa karyawan lainnya, " ujarnya.

Seperti THR tahun 2022 lalu kata dia, karyawan lapangan sudah terima THR. " Sementara saya dan Istiqomah (Karyawan lain) tidak dibayar sejak 3 tahun terakhir," ungkap Muniroh lagi kepada awak media.

Bahkan menurutnya, sampai saat ini hak-hak karyawannya belum terpenuuhi, mulai dari pesangon, gaji, hingga Tunjangan Hari Raya (THR) dari tahun 2020 sampai 2022 termasuk juga BPJS Ketenagakerjaan tidak pernah didaftarkan.

" Bahkan ada karyawan yang telah dilakukan Pemutusan Hubungan Kerja namun pimpinan perusahaan tidak mau membayarkan uang pesangon, uang penghargaan masa kerja, dan uang penggantian hak, " kata Muniroh yang mengaku sudah bekerja 7 tahun di perusahaan tersebut.

Sementara gaji bulan Oktober 2021 hingga Februari 2022 dibayar secara bertahap pada bulan Maret 2022. "Selama bulan Maret itu setiap minggu saya menerima gaji untuk pembayaran bulan-bulan sebelumnya. Untuk gaji Mei sampai sekarang belum juga dibayar,” keluh Muniroh.

Menurut dia, perusahan sepertinya sengaja menciptakan suasana kerja yang tidak nyaman supaya karyawan mengundurkan diri sehingga perusahaan tidak perlu membayar uang pasongan dan hak lainnya. “Perusahaan gentleman aja, kalau udah nggak pake, ya udah, diberhentiin aja,” tegasnya.

Hal serupa juga dialami oleh Adhi Wicaksono, selama dua bulan bekerja Oktober-November 2021 ia belum mencicipi gaji pertamanya karena bulan ketiga dia resign. “Saya resign karena hak saya (gaji, red) bulan pertama dan kedua tidak saya pernah saya terima satu rupiah pun,” ungkapnya.

Untuk mendapatkan hak-haknya sebagai karyawan pun sudah diupayakan dengan upaya mediasi sebanyak dua kali dengan mengirimkan surat ke pihak manajemen perusahan namun tidak ada respon dari pimpinan perusahaan di Jakarta.

“Terakhir pada hari Senin 27 Juni 2022, saya dihubungi oleh kuasa hukum perusahaan, mengundang membicarakan hak-hak yang belum dibayarkan pada tanggal 12 Juli 2022. Tapi saya tidak bersedia, karena tidak melibatkan disnaker provinsi,” pungkasnya dan berharap majelis hakim mengabulkan gugatannya.

Terkait gugatan ini pihak perusahaan belum berhasil dihubungi. Beberapa kali dihubungi nomor yang dituju bernada aktif namun tidak tersambung.


Penulis: Sahrial
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments