Senin, 26 September 2022

Lagi-Lagi Minyak Ilegal, Polda Diminta Tindak Tegas Pemain “Minyak Bayat”

Selasa, 16 Agustus 2022 | 06:40:11 WIB


/

 JAMBI - Kebakaran hebat menghabiskan gudang minyak dan toko alat mesin di Jalan Lingkar Barat, Jambi, Senin (15/8). Kasus ini mengungkap maraknya bisnis pengolahan minyak ilegal di Kota Jambi.

Kebakaran terjadi sekitar pukul 09.45 WIB. Sumber Metro Jambi menyebut, gudang minyak tersebut dikelola oleh seorang “pemain” minyak bernama Pandu. Sumber lain mensinyalir ada pemodal besar di belakangnya.

Gudang yang terletak di Jalan Lingkar Barat, RT 71 Kenalibesar, Alambarajo, itu disebut berada di lahan milik Bis Malitonggo. Akibat kebakaran, sebanyak 70 toren (tangki segiempat) ludes.

Ada laporan, semua tangki berkapasitas 1.000 liter itu berisi minyak dari aktivitas pengeboran ilegal di Bungku dan sekitarnya di Kecamatan Bajubang, Batanghari.

Tak hanya tangki segi empat, sebanyak 56 drum yang juga berisi minyak ikut terbakar bersama empat truk tangki. Api juga merembet ke bangunan sebelah, yakni Toko Jaya Abadi, dan sebuah usaha laundry.

Sebanyak 13 jenset di toko Jaya Abadi ikut terbakar. Tak ada korban jiwa maupun luka-luka. Hanya saja, api yang membesar dengan cepat hingga merembet ke saluran air dan badan jalan baru berhasil dijinakkan setelah tiga jam.

Dinas Damkar Kota Jambi menurunkan tujuh armada untuk menjinakkan api yang mengepulkan asap tebal ke langit Kota Jambi itu. “Kami mengerahkan sebanyak 50 personel,” ujar Kadis Damkar Feriadi.

Sejumlah pihak menyayangkan keberadaan gudang minyak yang diduga ilegal tersebut, yang baru terungkap setelah adanya kebakaran. Banyak yang menduga, gudang serupa masih marak di Kota Jambi, tapi tak tersentuh hukum.

“Gudang minyak ilegal di tengah kota, mustahil aparat penegak hukum tidak tahu,” ungkap aktivis anti korupsi dari LSM Sembilan, Jamhuri, kepada Metro Jambi, Senin (15/8).

Menurut dia, kebakaran di Lingkar Barat ini adalah kejadian kesekian kalinya. Sayangnya, tidak banyak pemodal atau pemain besar dalam rantai bisnis minyak ilegal ini yang terjerat hukum.

Dia menilai ada unsur kelalaian aparat dalam kasus kebakaran gudang minyak ini. “Bukan kelalaian pelaku, tetapi kelalaian aparat penegak hukum mendeteksi dari awal persoalan itu,” kata aktivis yang dikenal vokal ini.

Seorang sumber di sekitar lokasi kebakaran mengatakan bahwa gudang minyak milik Pandu ini sudah beroperasi sejak setahun lalu. Bisik-bisik warga  menyebutkan bahwa Pandu selama ini mengolah “minyak Bayat”.

Disebut minyak Bayat karena sumber awal minyak ilegal di Jambi adalah dari penambangan liar di Bayat, Musi Banyuasin, Sumatera Selatan. Belakangan, aktivitas pengeboran minyak ilegal (illegal drilling) ini juga marak di Kecamatan Bajubang, Batanghari.

Di antara desa yang menjadi ladang minyak ilegal ini adalah Pompa Air dan Bungku. Namun masyarakat Jambi terlanjut akrab dengan sebutan “minyak Bayat”.

Parahnya, pengeboran di Bajubang juga dilakukan di dalam area hutan lindung. Berkali-kali dioperasi, aktivitas ilegal ini berlanjut sampai saat ini.

Kapolresta Jambi Kombes Pol Eko Wahyudi saat turun ke lokasi kabakaran pada Senin siang juga mengatakan bahwa gudang yang terbakar tersebut beroperasi sekitar setahun lamanya.

Hanya saja, dia menyebut pemiliknya berinisial E. “Masih kita kejar untuk dimintai pertanggungjawaban,” ujarnya.

Kapolda Jambi Irjen Pol Albertus Rachmad Wibowo juga turun ke lokasi kebakaran. Didampingi Eko Wakyudi, Rachmad tidak lama berada di lokasi yang sudah dipasangi garis polisi itu. 

Atas kejadian ini, Sekretaris Komisi II DPRD Kota Jambi Joni Ismed meminta Polda dan Pemkot segera menginventarisasi gudang-gudang di Kota Jambi. Dengan begitu, kata dia, Polda dan Pemkot bisa mendeteksi ini gudang minyak ilegal.

Selain diduga melakukan pelanggaran dalam binis minyak, keberadaan gudang-gudang tersebut patut diduga tidak mematuhi peraturan soal lingkungan dan ketenagakerjaan. Misalnya soal limbah dan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).

Belum lagi pajak dan retribusi. Karena itu, menurut Joni, Kapolda dapat meminta jajaran di bawahnya memetakan wilayah gudang minyak ilegal. Kerja sama bisa langsung dengan pemerintah kecamatan, kelurahan, bahkan rukun tetangga.

“Tim khusus bisa mengecek legalitasnya, seperti izin dan aktivitas usaha. Karena usaha seperti ini berisiko bagi masyarakat sekitar,” kata Joni.

Dia juga meminta Pertamina tidak berdiam diri. Sebab, Pertamina mengetahui mana minyak ilegal dan mana hasil olahan Pertamina. “Dengan begitu, yang ilegal bisa dilakukan tindakan tegas,” katanya.

Pengamat sosial Nasroel Yasir mendorong polisi mengusut tuntas kebakaran gudang minyak di Jalan Lingkar Barat itu. Menurut dia, tidak sepatutnya bisnis minyak ilegal dibiarkan.

Senada dengan Joni Ismed, dia juga menyarakan camat, lurah dan ketua ikut mengawasi. Dia menilai, selama ini Pemkot Jambi tidak tegas terhadap bawahan di sekitar keberadaan gudang-gudang minyak ilegal. 

Seharusnya, tambah dia, camat, ketua RT dan lurah tidak mengizinkan gudang di tengah pemukiman. “Nampaknya ada pembiaran, seperti tutup mata, tutup mulut, banyak yang ditutupi itu,” tambahnya.

Bisnis “minyak Bayat” atau “minyak Bajubang” di Jambi memerlukan pemain bermodal besar. Bisnis ini menggiurkan karena potensi pasarnya yang sangat luas.

Salah satu potensi pasarnya juga bisnis ilegal, seperti pertambangan emas tanpa izin (PETI) yang marak di wilayah barat Provinsi Jambi. PETI memerlukan solar untuk alat berat.

Diduga, ribuan alat berat kini beroperasi di wilayah pertambangan emas ilegal di Kabupaten Sarolangun, Merangin dan Bungo.

Potensi lain adalah usaha batubara. Ada puluhan ribu truk yang setiap hari mengangkut batubara dari lokasi-lokasi pertambangan di Provinsi Jambi. Ada ribuan alat berat bekerja di lokasi-lokasi tambang emas hitam itu.


Penulis: Ichsan/Nita Priyanti/Tri Suratno/Joni Rizal
Editor: Joni Rizal



comments