Senin, 3 Oktober 2022

If You Could See Me Now pada Realitas Sosial yang Berulang

Sabtu, 20 Agustus 2022 | 12:07:04 WIB


/ ist

Oleh: Sean Popo Hardi*

PERTUNJUKAN olah tubuh kontemporer yang berlangsung hampir satu jam digelar di gedung Teater Arena Taman Budaya Jambi pada 19 Agustus 2022 malam.

Pertunjukan tari kontemporer ini menampilkan tiga penampil pria dengan mengenakan kostum kasual seperti di kehidupan sehari-hari layaknya seorang pemuda perkotaan masa kini.

Konstruksi realitas sosial dihadirkan ke dalam panggung pertunjukan dengan metode olah tubuh. Penonton disajikan gerakan-gerakan keseharian untuk dipersepsikan sebagai sebuah realitasnya sendiri.

Menurut Peter L Berger, seorang sosiolog dari Austria menjelaskan bahwa realitas sosial merupakan proses sosial yang dilakukan oleh individu atau kelompok melalui tindakan dan interaksi yang dilakukan secara bebas dan berulang.

Pada saat memasuki gedung pertunjukan, penonton langsung dihadirkan gerak tubuh mengikuti tempo musik yang sedang dari para menampil. Gerak ekstensi seperti merentangkan tangan ke depan, samping dan juga belakang selalu dilakukan secara berulang.

Masing-masing penampil juga melakukan gerakan depresi dan elevasi dengan cara menundukan kepala dan menengadahkan ke atas yang juga dilakukan secara berulang.

Gerakan tubuh tersebut didasarkan atas kehendak dari penampil dalam memaknai aktivitas sehari-hari. Gerakan seluruh bagian tubuh yang dilakukan selaras dengan ritme musik .

Tanpa menghiraukan penonton yang perlahan memenuhi gedung pertunjukan, para penampil terus melakukan gerakan-gerakan berulang tersebut dengan membentuk pola lantai tertentu. Hal ini dapat membawa kita memahami bahwa karya If You Could See Me Now merupakan suatu realitas hidup yang berulang.

Kehidupan yang sebenarnya adalah pengulangan-pengulangan yang pasti terjadi seperti jarum jam setelah di angka dua belas maka akan kembali ke angka satu. Kalender pun setelah angka tiga puluh akan kembali pada tanggal satu begitu pun seterusnya.

Hal ini juga terlihat dari perpindahan pola lantai yang berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain yang terus diulang membentuk garis lurus, lingkaran dan diagonal sejak awal hingga akhir pertunjukan.

Dalam diskusi yang digelar sehari sebelum pertunjukan, Arno Schuitemaker sang koreografer pertunjukan yang berasal dari Belanda menjelaskan bahwa karya ini berangkat dari imitasi, repetisi dan transformasi kehidupan sehari-hari.

Ia mengangkat realitas manusia dari sejak bayi yang terekam dalam ingatannya ke atas panggung dalam bentuk gerak yang mengandung cerita. Hal itu terlihat dari adegan-adegan di atas panggung yang menampilkan adegan beralur.

Dari alur inilah kemudian pertunjukan ini membentuk rangkaian peristiwa seperti judul karya ini yang mengibaratkan realitas itu seperti cermin yaitu apa yang kita lihat pasti dilihat pula oleh orang lain berdasarkan pengalaman dan ingatannya.

Jika kita mengingat kembali gerakan-gerakan keseharian merupakan suatu pengulangan bentuk gerak yang pernah terjadi sebelumnya. Dalam pertunjukan ini, gerakan yang dihadirkan merupakan imitasi dari gerakan keseharian.

Gerakan sehari-hari seperti gerakan berjalan, melambai, berteriak, kesakitan, menoleh dan berbagai gerakan lainnya hadir di dalam pertunjukan. Gerakan inilah yang menjadi ide dasar dalam garapan olah tubuh ini. Koreografer menjadikan gerak keseharian sebagai metode gerak dalam pertunjukan ini untuk mendukung alur cerita yang ingin disampaikan kepada penonton.

Gerakan lainnya yang dilakukan sangat memperhatikan setiap komponen penting di atas panggung. Tata pentas yang polos tanpa properti apapun, musik dan lampu berpadu dalam ritme lambat, sedang, cepat dan kembali lagi melambat.

Dalam memanfaatkan ritme musik, penampil menyesuaikan dengan tempo yang ada. Begitu pun dalam memaksimalkan penggunaan tata lampu, penampil terlihat menyatu dengan permainan tatalampu yang bermakna.

Tata lampu membentuk realitas hidup di jaman modern yang semakin cepat. Penataan lampu membawa penonton masuk ke dalam realitas masa kini yang menggambarkan ketakutan, kecemasan, dan kebingungan.

Sorotan lampu yang berkedip-kedip menambah nyata bahwa kehidupan manusia tidak seperti air yang tenang melainkan seperti gelombang di lautan. Warna lampu yang ditampilkan membuat penampil seperti berada di dalam dimensi-dimensi kehidupan yang lain di dalam realitas sosial saat ini.

Permainan lampu yang demikian, membentuk plot of action yaitu proses perubahan peristiwa yang muncul secara bertahap maupun tiba-tiba dalam suatu cerita. Perubahan alur ini juga memunculkan perubahan ritme gerak semakin cepat yang didukung dengan sorotan tata lampu yang awalnya menyorot dari atas tiba—tiba berubah dari arah bawah depan.

Permainan tata lampu ini juga menandai perubahan alur sehingga dapat dilakukan interpretasi terhadap perubahan realitas sosial yang ada saat ini berdasarkan warna lampu yang berubah.

Peter L Berger membagi relitas itu ke dalam tiga bagian yakni realitas objektif, subjektif dan simbolik. Dalam realitas objektif berkaitan dengan fakta-fakta yang benar terjadi dan diterima sebagai suatu kebenaran di dalam diri individu yang menyaksikan peristiwa tersebut.

Kejadian alam seperti matahari terbit, gelombang laut dan keseharian anak kecil yang dibatasi dunianya oleh orang tua merupakan salah satu bentuk realitas objektif. Hal-hal seperti inilah yang teramati dari pertunjukan tari kontemporer ini.

Gerakan seperti membentuk gelombang dan riak air juga termanifestasikan di dalam pertunjukan. Belum lagi gerakan seperti memeluk, menarik, membuang, mengambil, menahan, menggapai dan menatap juga menjadi ide gerak dalam pertunjukan.

Gerakan yang demikian memiliki makna bagi masing-masing individu penonton dalam memaknainya. Hal itu tergantung dari pengalaman dan wawasan penonton yang dibawa ke dalam gedung pertunjukan untuk memaknai setiap gerakan itu. Penonton memiliki kebebasan untuk menerjemahkannya sesuai dengan realitas objektif maupun simbolik yang dimiliki. 

Dalam realitas sosial simbolik, kenyataan itu diseleksi berdasarkan preferensi individu yang ditampilkan pada media dengan menggunakan simbol-simbol. Penafsiran dapat pula ditafsirkan berdasarkan simbol gerak yang dipahami penonton.

Pada gerakan mengayun dan memutar-mutar tangan dapat dimaknai sebagai suatu tindakan kekerasan bagi yang pernah memiliki pengalaman atas kejadian itu. Selain itu, dapat pula dipahami sebagai bentuk rasa kasih sayang bagi seseorang yang menangkap simbol itu sebagai ungkapan rasa kasih sayang. Hal itu bergantung dari pemahaman penonton atas simbol yang dilihatnya.

Relitas sosial yang lain yaitu realitas subjektif. Realitas ini terbentuk dan terintenalisai ke dalam setiap individu sesuai dengan pemahamannya terhadap realitas objektif dan simbolik. Konstruksi sosial tersebut tidak berdiri sendiri melainkan berdiri pada kepenting-kepentingan yang menyertainya.

Untuk itu, pertunjukan ini dapat dipahami sebagai suatu realitas hidup yang berulang berdasarkan ingatan masing-masing penonton. Koreografer dan penampil berupaya untuk menghadirkan realitas itu ke dalam pengalaman menonton di atas pentas.

Pada akhirnya pertunjukan yang dibuka dengan gerakan dengan ritme sedang, cepat kembali lagi pada gerakan sedang hingga lambat. Gerak tangan, kaki dan kepala dengan ritme-ritme tertentu menyesuaikan pada musik dapat menuntun penonton berkontemplasi pada apa yang telah terjadi dalam hidup sehari-hari.

Pertunjukan ini ditutup dengan para penampil saling pandang memandang. Mereka terlihat kebingungan dengan apa yang sedang terjadi pada dirinya. Hal itu menggambarkan bahwa realitas itu akan terus berulang yang entah sampai kapan dan terus diperbincangkan.
 

*Pengajar Sastra dan Budaya UIN Sutha Jambi


Penulis: Sean Popo Hardi
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments