Jumat, 3 Februari 2023

Seminar Internasional Dunia Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia: Jalur Rempah, Perannya dalam Dunia Kesehatan, dan Peluang di Masa Depan

Selasa, 20 September 2022 | 14:19:43 WIB


Seminar Internasional Melayu
Seminar Internasional Melayu / Istimewa

JAMBI - Jalur Rempah sangat berperan penting dalam membentuk sejarah Indonesia hari ini, bukan hanya di masa kolonial, tetapi juga masa prakolonial. Penting bagi kita untuk menelusuri sejarah yang cukup jauh ke belakang, melihat ikatan dan saling keterhubungan yang ada di dalam masyarakat yang sudah berlangsung berabad-abad, jauh sebelum adanya nasionalisme modern.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Jenderal Kebudayaan Hilmar Farid dalam pembukaannya pada ”Seminar Internasional Melayu dalam Jaringan Perdagangan Rempah Dunia” yang disampaikannya secara daring, Senin (19/9/2022).

“Penting bagi kita berdiskusi mendalami seperti apa dunia Melayu di dalam jalur perdagangan rempah dunia. Dari keterangan para sejarawan dan narasumber yang hadir, kita bisa melihat bahwa hubungan-hubungan itu cukup erat sesungguhnya, tercermin bukan hanya dari catatan sejarah, tetapi kita juga bisa memeriksanya dari perspektif linguistik, tinggalan arkeologisnya, kita bisa melihat dari ekspresi budaya yang kemudian bermunculan di seluruh Nusantara ini,” ujarnya.

Muhammad Nur, Sejarawan Universitas Andalas dalam materinya yang berjudul “Peran Sungai dan Laut dalam Sejarah Peradaban Rempah Dunia Melayu” mengatakan bagai gula yang dicari semut, rempah merupakan satu-satunya primadona perdagangan pada masa kuno di dunia Melayu.

Sejak abad ke-7 sampai abad ke-18 pusat-pusat perdagangan rempah di dunia Melayu memiliki bandar-bandar dagang yang besar, baik sebagai pelabuhan laut maupun bantaran sungai. Bandar tersebut sering dikunjungi oleh kapal-kapal dari berbagai daerah yang cukup jauh, misalnya Cina, Gujarat, India, Persia, Arab, Roma, dan Mediterania.

Ia menjelaskan faktor-faktor penyebab negeri Melayu menjadi pusat pelayaran dan perdagangan rempah adalah karena di sekitar pantai timur dan pantai barat Sumatra tumbuh berbagai tanaman rempah yang dibutuhkan oleh orang Eropa, Mediterania, Persia, Mesir, dll.

Ia juga menambahkan bahwa sejarah perdagangan rempah-rempah antara Cina dan Indonesia sepenuhnya menunjukkan bahwa pertukaran budaya berlangsung dua arah, bukan satu arah.

Prof. Amarjiva Lochan yang membawa materi bertajuk “Malays’ Spice Commodities Trade in Nusantara’s Spice Routes” mengatakan, “Perdagangan rempah juga terjadi di India, tetapi itu bukan hanya persoalan perdagangan saja. Melalui sungai dan bandar-bandar, ada pertemuan budaya, agama, dan lain hal sebagainya.

Hubungan antara India, Tiongkok, tidak hanya sekadar perdagangan saja, tidak seperti perdagangan yang kita bayangkan hari ini. Perdagangan masa lalu memiliki impact yang sangat besar untuk hari ini,” pungkasnya.

Pemateri lainnya, Dr. Pinky Saptandari dari Universitas Airlangga, dalam materi “Rempah untuk Kesehatan dalam Budaya Melayu” mengatakan bahwa rempah merupakan bagian dari kebudayaan, membawa pesan dan cerita tentang kenikmatan, kecantikan, kebugaran, dan kesehatan bagi dunia. “Rempah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari siklus hidup manusia, mulai dari kelahiran, tumbuh-kembang, dewasa, menikah, melahirkan, hingga kematian,” ujarnya.

Menurut Pinky, rempah yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari, tidak hanya menjadi urusan personal, tetapi juga menjadi urusan sosial serta ekonomi.

Lantas, apa peran rempah dalam dunia Melayu? Pinky mengatakan, rempah turut merawat, memperkuat, dan merayakan keberagaman budaya dalam hal gastronomi, kebugaran dan kesehatan, serta kecantikan dan seksualitas.

“Rempah digunakan sejak lama dari berbagai bentuk, dari bubuk hingga cairan yang bisa ditemukan dalam minuman kebugaran yang berbeda-beda di tiap daerah, misal Saraba, bir pletok, wedang uwuh,” ujarnya.

Rempah kemudian menjadi suatu upaya untuk merawat memori kolektif kita tentang tradisi kuliner dan budaya lokal yang pernah disinggahi.


Penulis: Nita Priyanti
Editor: Ikbal Ferdiyal


TAGS:


comments