Jumat, 9 Desember 2022

LSMM Sebut Tragedi Kanjuruhan Sebagai Kejahatan Kemanusiaan

Minggu, 02 Oktober 2022 | 22:13:40 WIB


Ketua Lingkar Studi Mahasiswa Marhaenis (LSMM) Jambi Ados Aleksander
Ketua Lingkar Studi Mahasiswa Marhaenis (LSMM) Jambi Ados Aleksander / Metrojambi.com/ist

JAMBI - Seratus orang lebih meninggal dunia akibat kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, usai laga Liga 1 antara tuan rumah Arema FC vs Persebaya Surabaya, Sabtu (1/10/2022) malam.

Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo pada Minggu (2/10/2022) menyampaikan, korban meninggal dunia berjumlah 125 orang, sesuai hasil verifikasi dan pembaruan data.

Tanggapan atas tragedi di Stadion Kanjuruhan tersebut datang dari berbagai pihak. Salah satunya dari Lingkar Studi Mahasiswa Marhaenis (LSMM) Provinsi Jambi, yang juga menyampaikan ungkapan dukacita atas peristiwa tersebut.

Terkait kejadian itu sendiri, LSMM Jambi menilai bahwa aparat keamanan cacat menjalankan pengamanan sesuai prosedur yang berlaku.

"Peristiwa ini bukan sekedar tragedi, ini adalah kejahatan kemanusiaan," kata Ados Aleksander, Ketua LSMM Jambi melalui keterangan persnya pada Minggu, (2/10/2022).

Ditambahkan Ados, pihaknya menilai nyawa masyarakat sipil yang berada di lokasi kejadian seolah-olah tidak ada harganya karena adanya penembakan gas air mata yang jelas sudah dilarang dipergunakan oleh Federation Internationale de Football Association (FIFA) selaku induk sepak bola dunia.

"Dalam aturan FIFA kan sudah jelas, bahwasanya FIFA melarang adanya pelepasan gas air mata apabila terjadi kerusuhan di lapangan," kata Ados.

Adapun larangan penggunaan gas air mata tertuang dalam Stadium Safety and Security Regulations pada  pasal 19 b yang dimana tertulis, 'No firearms or "crowd control gas" shall be carried or used'.

Ados mengatakan dalam hal ini jelas pihak kepolisian melanggar aturan. Selain itu, Ados juga mengatakan salah satu pihak yang juga harus bertanggung jawab adalah PT Liga Indonesia Baru (LIB).

Beberapa media menguak fakta bahwasanya pihak kepolisian sebenarnya sudah mengkhawatirkan pertandingan ini dan meminta kepada PT LIB agar pertandingan dapat dilaksanakan pada sore hari untuk meminimalisir risiko.

“Tapi yang menjadi pertanyaan kenapa pihak liga menolak permintaan tersebut dan tetap menyelenggarakan pertandingan pada malam hari," ujarnya.

LSMM berharap pemerintah tidak hanya bergerak dalam kata-kata atas peristiwa ini melainkan menindak secara tegas seluruh pihak yanh menjadi penyebab kejadian ini.

"Baik dari PSSI, panitia pelaksana,  dan semua yang terlibat dalam kejadian ini harus dievaluasi dan ditindak secara hukum," tegasnya.


Penulis:
Editor: Ikbal Ferdiyal



comments