Senin, 30 Januari 2023

Makna Anak Muda

Jumat, 28 Oktober 2022 | 09:08:29 WIB


/

Oleh: Musri Nauli*

DALAM kamus besar Bahasa Indonesia, Pemuda diartikan sebagai orang yang masih muda, orang muda. Biasa juga disebutkan dengan taruna.

Didalam UU Kepemudaan, Pemuda didefinisikan sebagai adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun.

Melihat berbagai istilah dan definisi yang menjadi rujukan untuk melihat Pemuda, saya lebih suka menyebutkan “anak muda”.

Selain menggambarkan optimisme dari “anak muda” yang kaya gagasan, kritis, bicara meledak-ledak, keinginan Belajar dan keinginan yang besar, “anak muda” lebih menggambarkan sikap “keras kepala”, radikal, ngotot mempertahankan pendapat dan mempunya mimpi besar.

Gambaran optimisme dari “anak muda” malah menjadi “kurang gregetan” kemudian menjadi reduksi “hanya” diatur dengan usia hanya 30 tahun.

Atau dengan kata lain, makna “anak muda” kurang tergambarkan di dalam UU Kepemudaan yang semata-mata hanya mencantumkan kata-kata “memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan” yang kemudian disusul dengan kategori usia. Sampai 30 tahun.

Sama sekali tidak tergambarkan “kekuatan potensi” anak muda yang mampu mengubah sejarah. Termasuk periode penting sejarah “anak muda” dalam percaturan sejarah bangsa Indonesia.

Padahal hanya dengan membuat kategori “usia” hanya 30 tahun justru semakin mereduksi sejarah panjang bangsa Indonesia.

Berbagai sumber menyebutkan tokoh-tokoh Sumpah Pemuda, Soegondo Djojopoespito (PPPI), R. M. Joko Marsaid (Jong Java), Mohammad Yamin (Jong Sumatranen Bond), Amir Sjarifoeddin (Jong Bataks Bond), Johan Mohammad Cai (Jong Islamieten Bond), R. Katja Soengkana (Pemuda Indonesia), Rumondor Cornelis Lefrand Senduk (Jong Celebes), Johannes Leimena (Jong Ambon), Mohammad Rochjani Su'ud (Pemuda Kaum Betawi), W. R. Soepratman (pencipta lagu Indonesia Raya)

Memang sebagian besar tokoh-tokoh Sumpah Pemuda adalah  “pemuda” di bawah 30 tahun. Namun “mereka” adalah tokoh-tokoh bangsa Indonesia yang punya gagasan yang pemikirannya jauh kedepan. Bukan semata-mata karena mereka usia dibawah 30 tahun.

Sebagai generasi yang kemudian saya lebih suka “menyebutkan” anak muda, di usia yang sedang mencari jatidiri, pematangan jiwa, sikap kritis melihat ketidakadilan, melihat segala sesuatu tanpa harus dipengaruhi nilai-nilai kolot, mengembangkan gagasan hingga berfikir kreatif, usia yang sangat matang untuk mengadakan perubahan zaman. Sekaligus menciptakan momentum yang dapat mengubah sejarah.

Di zaman yang sangat berubah cepat, tokoh-tokoh Pemuda tidak hanya terjebak dengan usia dibawah 30 tahun.

Berbagai aplikasi yang dapat mengubah seluruh lintasan sistem yang kolot mampu membuka mata dari “pemain lama” yang cenderung dengan kenyamanan.

Salah satunya adalah Nadiem Makarim. Seorang “entrepenuer” yang ketika “me-launcing” aplikasi Gojek tidak lagi berusia 30 tahun.

Menurut berbagai sumber,  perusahaan ini didirikan pada tahun 2009 di Jakarta oleh Nadiem Makarim.

Saat ini, Gojek telah tersedia di 50 kota di Indonesia. Hingga bulan Juni 2016, aplikasi Gojek sudah diunduh sebanyak hampir 10 juta kali

Masih segar ketika aplikasi Gojek”, sebuah perusahaan transportasi dan penyedia jasa berbasis daring yang beroperasi di Indonesia dan sejumlah negara Asia Tenggara seperti Singapura, Vietnam, dan Thailand mampu menumbangkan “Blue bird” yang Sudah “membirukan” Jakarta puluhan tahun.

Hanya dengan sekedar “clik” tanpa harus memiliki armada, pangkalan, sopir namun kemudian membuat “Blue Bird” harus berbenah. Mereka harus mengakui “keunggulan” dari aplikasi yang digagasa “anak muda” bermodalkan aplikasi.

Dengan demikian maka membuat kategori “anak muda” dengan mereduksi definisi “Pemuda” dengan bersandarkan usia kategori berdasarkan “UU Kepemudaan” justru kontraproduktif dengan gagasan “anak muda”.

Justru “menjebak” dan kemudian menjadi tergiring menjadi “persoalan administrasi” dan kategori usia.

Selamat Sumpah Pemuda. Selamat merayakan sumpah anak muda.


*) Advokat. Tinggal di Jambi


Penulis:
Editor:


TAGS:


comments