Minggu, 29 Januari 2023

Al Haris Akui Kewalahan Atur Angkutan Batubara, Sebut Banyak Oknum Melanggar

Selasa, 08 November 2022 | 07:29:43 WIB


/ dok/metrojambi.com

JAMBI - Gubernur Jambi Al Haris mengaku kesulitan mengatur angkutan batubara di Provinsi Jambi. Akibatnya, meski sudah banyak kebijakan yang diambil, masalah kemacetan dan kekacauan lalu lintas tak kunjung teratasi.

“Kita mengaturnya terus, tetapi oknum-oknum sopir berani melanggar. Kita bikin jamnya, tapi mereka masih mendahului. Kita atur jumlahnya, mereka melampui jumlahnya,” ujar Al Haris kepada wartawan usai Rapat Pengendalian Inflasi di gedung Bank Indonesia Jambi, Senin (7/11/2022).

Baca versi cetaknya disini

Menurut Al Haris, sulitnya mengatur angkutan batubara ini juga terjadi karena jumlah petugas di lapangan kalah dibandingkan dengan jumlah sopir. “Sehingga kita akui kita kewalahan mengatur itu,” tambah politisi Partai Amanat Nasional ini.

Baca juga : Operasional Angkutan Batubara akan Kembali Dihentikan Sementara

Provinsi Jambi diberi jatah memenuhi kuota ekspor batubara sekitar 40 juta ton pada 2022. Dengan target tersebut, sekitar 12.000 kendaraan angkutan batubara beroperasi setiap hari dari mulut tambang di Kabupaten Sarolangun, Batanghari, Tebo dan Muarojambi.

Jumlah operator pertambangan pun terus bertambah. Sebagian besar “emas hitam” tersebut diangkut ke Pelabuhan Talangduku di Muarojambi. Sebagian kecil melalui pelabuhan Taman Raja di Tanjab Barat dan Pelabuhan Teluk Bayur di Padang.

Padatnya lalu lintas angkutan batubara ini sudah sangat mengganggu masyarakat umum pengguna jalan di sepanjang jalur Muaratembesi-Kota Jambi-Pelabuhan Talangduku. Diperkirakan sebanyak 120 nyawa melayang akibat kecelakaan yang melibatkan angkutan batubara.

Baca juga : Ini Penyebab Kemacetan Parah di Jalan Lintas Muaratembesi-Muarabulian

Perjalanan kendaraan umum dari Muaratembesi-Jambi atau sebaliknya seringkali memakan waktu 5-6 jam. Padahal, sebelum jalur tersebut dipadati angkutan batubara, jarak tempuh Muaratembesi-Jambi itu hanya 1,5 jam saja.


Penulis: Tri Suratno/Joni Rizal
Editor: Joni Rizal



comments