Rabu, 8 Februari 2023

Usut Perawat Raba Mahasiswi, Sekda Minta Inspektorat Selidiki Pegawai RSUD Raden Mattaher

Kamis, 01 Desember 2022 | 09:04:35 WIB


Halaman muka koran Metro Jambi edisi Kamis, 1 Desember 2022
Halaman muka koran Metro Jambi edisi Kamis, 1 Desember 2022 / Metrojambi.com/ist

JAMBI - Sekda Provinsi Jambi Sudirman memerintahkan Inspektorat menyelidiki kasus dugaan pelecehan mahasiswi magang di Rumah Sakit Umum Raden Mattaher oleh seorang perawat berinisial BP (49). Kasus ini dilaporkan ke Polresta Jambi pada 4 November 2022.

Sudirman mengatakan, tim Inspektorat diperintahkan untuk menyelidiki kasus tersebut sejak Selasa (29/11/2022). “Kemudian segera laporkan kepada Gubernur, dan kita akan ambil sikap,” ujar Sudirman yang diwawancarai usai rapat di gedung DPRD Provinsi Jambi, Rabu (30/11/2022).

Baca versi cetaknya disini

Menurut mantan dosen hukum Universitas Jambi ini, jika terbukti perawat berinisial BP itu melakukan pelecehan seksual, maka akan dibentuk tim investigasi.  

“Langkah-langkah sudah kita tempuh ke Inspektorat. Inspektorat akan turun cek dan buat laporan kepada Gubernur, dan sekalian rekomendasi dari tim yang bertugas. Pemeriksaan ini juga memiliki batas waktu,” tambahnya.

Sekda memastikan akan ada sanksi bagi oknum perawat RSUD Raden Mattaher tersebut jika terbukti bersalah. Hanya saja, tambah dia, pelanggaran seperti itu bukan pelanggaran luar biasa. 

“Kecenderungan sanksinya adalah sedang, seperti penundaan atau penurunan pangkat secara berkala,” tutupnya.

Walau Sudirman enggan memastikan, dari penelusuran Metro Jambi diketahui bahwa BP adalah aparatur sipil negara (ASN) di rumah sakit pelat merah itu.

Kasus dugaan pelecehan seksual oleh BP menyeruak setelah IW (47), orang tua mahasiswi yang menjadi korbannya, mendatangi Mapolres Jambi pada Rabu (30/11/2022) untuk mengetahui kelanjutan laporan yang dibuatnya pada awal November lalu. 

Informasi yang dihimpun, putri IW adalah mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Jambi yang magang di RSUD Raden Mattaher. Dia dilaporkan mengalami pelecehan seksual pada Senin, 31 Oktober 2022.

Menurut IW, hari itu putrinya sedang mengambil data riset di dekat Ruang Operasi RSUD Raden Mattaher. Tiba-tiba BP mendorongnya dari belakang ke dalam ruang operasi yang sedang kosong.

BP dilaporkan menyentuh dan meraba beberapa bagian tubuh mahasiswi tersebut serta mencium pipinya. Dia dilaporkan juga berupaya melepas masker yang dikenakan mahasiwi tersebut. Aksi BP terhenti ketika terdengar langkah-langkah perawat di lorong menuju ruang operasi.

“Saat ada suara perawat di luar, pelaku agak melemaskan pegangannya ke anak saya. Waktu itulah anak saya mencari kesempatan untuk berontak dan langsung lari,” kata IW.

Diakui IW, usai kejadian itu putrinya langsung melapor ke pihak kampus. “Anak saya tidak lapor saya langsung karena saya sedang tidak di Jambi. Saya hanya ditelepon, ada sesuatu, tapi tidak dijelaskan apa,” sebutnya.

Karena menduga ada yang janggal, IW menelusuri sendiri kejadian itu hingga satu di antara rekan anaknya menceritakan kejadian tersebut. Mengetahui hal itu, dia meminta istrinya menemui manajemen RSUD Raden Mattaher.

Kata IW, pihak rumah sakit meminta agar tidak melanjutkan masalah tersebut ke kepolisian. Namun, IW tetap melaporkannya ke polisi pada Jumat, 4 November 2022.

“Pihak rumah sakit harusnya mengambil tindakan pemberhentian untuk mengantisipasi ada korban lainnya,” ujarnya. Bila tidak dihukum, tambah dia, bukan tidak mungkin ada kesempatan BP mengulangi perbuatan tak senonohnya. 

Dihubungi terpisah, Kabag Umum dan Humas RSUD Raden Mattaher Zofran mengatakan bahwa direktur rumah sakit tersebut, Herlambang, sudah memproses kasus ini sesuai aturan kepegawaian yang berlaku. Namun, Zofran belum bisa merincikan proses apa yang sudah dilakukan.

Zofran mengamini bahwa perawat BP yang dilaporkan tersebut adalah seorang ASN, bukan honorer. Ditanya soal informasi yang menyebut manajemen RSUD Raden Mattaher pernah meminta agar kasus ini tidak dibawa ke ranah hukum, Zofran pun membenarkan.

“Direktur hanya mencoba memediasi secara kekeluargaan. Kan tidak semuanya harus langsung diselesaikan secara pidana,” jawab Zofran yang dihubungi Metro Jambi melalui pesan WhatsApp.


Penulis: Tri Suratno/Joni Rizal
Editor: Joni Rizal



comments